Perjuangan Sultan Hasanuddin: 'Ayam Jantan dari Timur' Mempertahankan Kedaulatan Somba Opu
Perlawanan gagah berani raja Kesultanan Gowa Makassar mempertahankan prinsip perdagangan bebas maritim 'laut adalah milik bersama karunia Allah' melawan monopoli dagang VOC Belanda, hingga penjajah menjulukinya 'De Haantjes van Het Oosten' (Ayam Jantan dari Timur).
Latar Belakang & Konteks Sejarah
Perusahaan Dagang Hindia Timur Belanda (VOC) berambisi memonopoli seluruh perdagangan rempah-rempah di Maluku dan Sulawesi. Kesultanan Gowa memegang prinsip kebebasan berlayar yang dirumuskan perdana menterinya: 'Tuhan telah menciptakan bumi dan lautan untuk semua manusia, tiada bangsa yang berhak memonopolinya.'
Kronologi & Jalannya Peristiwa
Sultan Hasanuddin menolak menandatangani perjanjian yang melarang pedagang dari Inggris, Denmark, dan Portugis berlabuh di Somba Opu. Pecahlah Perang Makassar (1666–1669 M). Belanda di bawah Cornelis Speelman mengerahkan armada kapal perang besar bersekutu dengan pasukan Arung Palakka. Selama berbulan-bulan, benteng Somba Opu dihujani ribuan peluru meriam. Hasanuddin memimpin langsung pasukan perahu kora-kora dan infanteri dengan keberanian luar biasa hingga musuh gentar dan menjulukinya 'Ayam Jantan dari Timur'. Meskipun akhirnya terpaksa menandatangani Perjanjian Bongaya pada 1667 M, Hasanuddin tetap menolak tunduk dan melanjutkan perlawanan gerilya.
Pengaruh terhadap Peradaban Dunia
Menjadi inspirasi heroisme perlawanan anti-kolonialisme di seluruh pelosok Indonesia dan ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional.
"Mempertahankan hak asasi, keadilan ekonomi, dan kemerdekaan dari kezaliman asing adalah amanah kehormatan yang tidak boleh diperjualbelikan."