Pembebasan Yerusalem oleh Shalahuddin Al-Ayyubi: Kemenangan Hittin & Kemuliaan Akhlak Kesatria Islam
Setelah menghancurkan pasukan tentara Salib di Pertempuran Hittin, Sultan Shalahuddin Al-Ayyubi membebaskan kota suci Yerusalem tepat pada malam 27 Rajab (peringatan Isra' Mi'raj), memperlakukan musuh dengan ampunan dan keluhuran budi tanpa setetes pun balas dendam.
Latar Belakang & Konteks Sejarah
Raynald dari Châtillon melanggar gencatan senjata dengan merampok kafilah haji dan mengancam menyerang Madinah serta membongkar makam Rasulullah. Shalahuddin bersumpah menghukumnya.
Kronologi & Jalannya Peristiwa
Pada Juli 1187 di Bukit Tanduk Hittin dekat Danau Tiberias, Shalahuddin mengepung pasukan salib yang kehausan dengan membakar semak belukar kering. Pasukan salib dihancurkan total, Raja Guy ditawan dan Raynald dieksekusi. Shalahuddin lalu mengepung Yerusalem. Pada 2 Oktober 1187 (27 Rajab), Balian dari Ibelin menyerahkan kota. Berbeda dengan pembantaian tentara salib pada 1099, Shalahuddin tidak membunuh satu pun warga sipil. Ia menggratiskan tebusan ribuan orang miskin dari uang pribadinya, mengawal keluarga musuh dengan aman ke pelabuhan, dan mengizinkan umat Kristen tetap berziarah ke Gereja Makam Kudus.
Pengaruh terhadap Peradaban Dunia
Mengembalikan Masjid Al-Aqsa ke haribaan Islam, sekaligus menjadikan nama Saladin diakui di seluruh peradaban Barat dan Timur sebagai teladan ksatria paling terhormat.
"Kemenangan moral melalui pemaafan dan keluhuran akhlak jauh lebih menggetarkan hati dunia daripada kemenangan pedang berdarah."